Aqiqah Diri Sendiri atau Anak Dulu? Begini Hukumnya Menurut Fikih

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat pembaca yang budiman, ibadah aqiqah merupakan salah satu anjuran syariat sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Namun dalam realitas kehidupan, tidak sedikit seseorang yang belum sempat diaqiqahi oleh orang tuanya sewaktu kecil karena keterbatasan ekonomi, lalu setelah dewasa dan berkeluarga, ia dikaruniai seorang anak.

Kondisi ini sering kali memicu keraguan dalam menentukan prioritas: manakah yang harus didahulukan, mengaqiqahi diri sendiri yang sempat tertunda ataukah mengaqiqahi anak yang baru lahir? Untuk mengulasnya secara jernih, berikut adalah penjelasan fikih dan ijtihad para ulama mengenai skala prioritas pelaksanaan aqiqah tersebut:

Sosialisasi Bahtsul Masail LBM NU Klaten

Pertanyaan:

Apabila seseorang belum diaqiqahi pada masa kecilnya, kemudian telah berkeluarga dan memiliki anak, manakah yang lebih utama: mengaqiqahi dirinya sendiri terlebih dahulu atau mengaqiqahi anaknya?

Jawaban & Penjelasan:

Jika anak telah mencapai usia balig, mengaqiqahi diri sendiri lebih diutamakan. Namun, apabila anak belum balig, lebih disunnahkan mendahulukan aqiqah bagi anak, karena tuntutan syariat untuk mengaqiqahinya masih berlaku hingga ia balig, sedangkan kesunnahan mengaqiqahi diri sendiri masih diperselisihkan oleh para ulama (Imam Ahmad tidak berlaku aqiqah ketika sudah balig, Adapun imam syafi’I disunahkan dan itu bisa dilakukan dilain waktu).

Catatan Fikih Perbedaan Mazhab:
Menurut Mazhab Syafi'i, tuntutan kesunnahan aqiqah berpindah kepada anak setelah ia balig, sehingga disunnahkan mengaqiqahi dirinya sendiri. Sementara dalam Mazhab Hanbali (Imam Ahmad), anjuran aqiqah gugur bagi anak yang telah balig karena kewajiban asal berada di tangan orang tua. Keragaman pandangan inilah yang membuat pemenuhan aqiqah anak yang belum balig menjadi prioritas utama.

Referensi & Maraji' Kitab:

1. Kitab Asna al-Mathalib fi Syarh Raudh ath-Thalib (Jilid 3, Hlm. 359)

Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah - Bab al-'Aqiqah - Al-Maktabah asy-Syamilah

وَلَا تَفُوتُ عَلَى الْوَلِيِّ الْمُوسِرِ بِهَا حَتَّى يَبْلُغَ الْوَلَدُ، فَإِنْ بَلَغَ فَحَسَنٌ أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ.

2. Kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah (Jilid 13, Hlm. 397)

Tahqiq at-Turki - Fashl - Al-Maktabah asy-Syamilah

وَإِنْ لَمْ يُعَقَّ أَصْلًا، فَبَلَغَ الْغُلَامُ، وَكَسَبَ، فَلَا عَقِيقَةَ عَلَيْهِ. وَسُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ، فَقَالَ: ذَلِكَ عَلَى الْوَالِدِ. يَعْنِي لَا يَعُقُّ عَنْ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّ السُّنَّةَ فِي حَقِّ غَيْرِهِ. وَقَالَ عَطَاءٌ، وَالْحَسَنُ: يَعُقُّ عَنْ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ عَنْهُ وَلِأَنَّهُ مُرْتَهَنٌ بِهَا، فَيَنْبَغِي أَنْ يُشْرَعَ لَهُ فِكَاكُ نَفْسِهِ. وَلَنَا، أَنَّهَا مَشْرُوعَةٌ فِي حَقِّ الْوَالِدِ، فَلَا يَفْعَلُهَا غَيْرُهُ، كَالْأَجْنَبِيِّ، كَصَدَقَةِ الْفِطْرِ.

3. Hasiyah asy-Syarqawi (Jilid 2, Hlm. 470)

وَيَدْخُلُ وَقْتُهَا بِالْوِلَادَةِ وَلَا آخِرَ لَهُ فَلَا تَفُوتُ بِمَوْتِ الْوَلَدِ وَلَا بِطُولِ الزَّمَنِ بَلْ يَنْتَقِلُ طَلَبُهَا بِالْبُلُوغِ مِنَ الْأَبِ إِلَى الْوَلَدِ فَيَتَخَيَّرُ فِي الْعَقِّ عَنْ نَفْسِهِ وَلَوْ لَمْ تُطْلَبْ مِنَ الْأَبِ لِفَقْرِهِ لَمْ تُطْلَبْ مِنَ الْوَلَدِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ.

4. Kitab I'anatu at-Thalibin (Jilid 2, Hlm. 336)

فَلَوْ بَلَغَ وَلَمْ يُخْرِجْهَا الْوَلِيُّ سُنَّ لِلصَّبِيِّ أَنْ يَعُقَّ عَنْ نَفْسِهِ وَيَسْقُطُ الطَّلَبُ حِينَئِذٍ عَنِ الْوَلِيِّ.

Sumber: SOSIALISASI HASIL BAHTSUL MASAIL LBM NU KLATEN, JUMAT 07 AGUSTUS 2026

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *