Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat pembaca yang budiman, seiring perkembangan zaman, dinamika sosial sering kali mempertemukan kita dengan pertanyaan-pertanyaan fikih yang sangat kontekstual. Salah satu fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan beragama dan pesantren adalah tradisi bersalaman atau berjabat tangan antara pemuka agama (kiai/ustaz) dengan para santri atau jamaah perempuan.
Hal ini tak jarang menimbulkan ruang diskusi di tengah masyarakat: bagaimanakah batasan fikih memandang interaksi langsung tanpa pembatas tersebut? Untuk mengulasnya secara jernih, berikut adalah hasil ijtihad dan penjelasan para ulama lintas mazhab mengenai persoalan kiai atau ustaz bersalaman dengan lawan jenis non-mahram:
Pertanyaan:
Adakah ulama mazhab yang membolehkan seorang kiai, ustaz, atau laki-laki bersalaman dengan santri atau jamaah perempuan yang bukan mahram tanpa adanya penghalang? Jika ada, apa dasar dan batasannya?
Jawaban & Penjelasan:
Menurut Jumhur Ulama (mayoritas ulama), hukum berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram adalah Haram. Pandangan utama ini didasarkan secara tegas pada hadis Nabi SAW:
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ
"Sungguh aku tidak berjabat tangan dengan perempuan"
(HR. an-Nasa'i & Ibnu Majah)
Kendati demikian, karena persoalan ini masuk ke dalam ranah ijtihad fungsional, terdapat ruang perbedaan sudut pandang di antara para ulama fikih, di antaranya:
-
Mazhab Hanafi: Diperbolehkan berjabat tangan kepada orang tua yang sudah lanjut usia (lansia), dengan catatan mutlak selama aman dari fitnah dan syahwat.
-
Ulama Kontemporer (Syekh Yusuf al-Qaradawi): Berpendapat bahwa berjabat tangan dengan lawan jenis dibolehkan, dengan syarat kuat tidak menimbulkan syahwat maupun fitnah dari kedua belah pihak.
Batasan & Etika Bagi yang Mengikuti Pendapat Membolehkan:
Bagi siapa saja yang mengamalkan pendapat yang membolehkan, para ulama memberikan tiga batasan dan etika ketat demi menjaga kesucian syariat:
- Terbatas pada Kebutuhan Nyata: Hendaknya aktivitas berjabat tangan ini dibatasi hanya pada kebutuhan yang benar-benar diperlukan, seperti di antara kerabat dekat atau besan, serta sebaiknya tidak diperluas agar senantiasa terhindar dari fitnah dan syubhat.
- Tidak Menginisiasi Jabat Tangan: Hendaknya tidak mendahului atau memulai berjabat tangan dengan lawan jenis. Namun, apabila pihak lawan jenis terlebih dahulu menyalami, maka diperbolehkan untuk membalasnya.
- Ranah Ijtihad yang Saling Menghormati: Pendapat ini dapat diamalkan oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya. Karena persoalan ini merupakan ranah ijtihad para ulama, maka tidak perlu ada aksi saling menyalahkan satu sama lain.
Sikap Kehati-hatian (Ikhtiyat):
Dalam rangka bersikap hati-hati (ikhtiyat), terutama jika diperkirakan atau dikhawatirkan akan memicu munculnya syahwat dan fitnah, LBM PCNU Klaten cenderung untuk mengharamkan praktik tersebut demi menutup pintu kemudaratan (*saddudz dzari'ah*).
Referensi & Maraji' Kitab:
1. Kitab al-Mabsuth karya Imam as-Sarkhasi (Hlm. 154)
Bab: An-Nazhar ila al-Ajnabiyyat
فَإِذَا كَانَتْ الْعَجُوزُ لَا تَشْتَهَى فَلَا بَأْسَ بِمُصَافَحَتِهَا وَمَسِّ يَدِهَا، إِلَى أَنْ قَالَ: وَلَمَّا مَرِضَ الزُّبَيْرُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِمَكَّةَ اسْتَأْجَرَ عَجُوزًا لِتُمَرِّضَهُ فَكَانَتْ تَغْمِرُ رِجْلَيْهِ وَتُفَلِّي رَأْسَهُ وَلِأَنَّ الْحُرْمَةَ لِخَوْفِ الْفِتْنَةِ فَإِذَا كَانَتْ مِمَّنْ لَا تُشْتَهَى فَخَوْفُ الْفِتْنَةِ مَعْدُومٌ وَكَذَلِكَ إِنْ كَانَ هُوَ شَيْخًا يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ وَعَلَيْهَا فَلَا بَأْسَ بِأَنْ يُصَافِحَهَا وَإِنْ كَانَ لَا يَأْمَنُ عَلَيْهَا أَنْ تَشْتَهِيَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يُصَافِحَهَا فَيُعَرِّضَهَا لِلْفِتْنَةِ كَمَا لَا يَحِلُّ لَهُ ذَلِكَ إِذَا خَافَ عَلَى نَفْسِهِ.
2. Fatwa Syekh Ali Jum'ah
Fatwa No. 2287 - Dar al-Ifta al-Mishriyyah, 13 Januari 2011
مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ لِلْمَرْأَةِ الْأَجْنَبِيَّةِ مَحَلُّ خِلَافٍ فِي الْفِقْهِ الْإِسْلَامِيِّ؛ فَيَرَى جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ حُرْمَةَ ذَلِكَ، إِلَّا أَنَّ الْحَنَفِيَّةَ وَالْحَنَابِلَةَ أَجَازُوا مُصَافَحَةَ الْعَجُوزِ الَّتِي لَا تُشْتَهَى؛ لِأَمْنِ الْفِتْنَةِ ... بَيْنَمَا يَرَى جَمَاعَةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ جَوَازَ ذَلِكَ؛ لِمَا ثَبَتَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ صَافَحَ النِّسَاءَ لَمَّا امْتَنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُصَافَحَتِهِنَّ عِنْدَ مُبَايَعَتِهِنَّ لَهُ، فَيَكُونُ الِامْتِنَاعُ عَنِ الْمُصَافَحَةِ مِنْ خَصَائِصِ النِّسَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.
3. Syekh Yusuf al-Qaradawi
Kitab Fatawa Mu'ashirah, Hlm. 291-302
وَالَّذِي أُحِبُّ أَنْ أُؤَكِّدَهُ فِي خِتَامِ هَذَا الْبَحْثِ أَمْرَانِ:
أَلْأَوَّلُ: أَنَّ الْمُصَافَحَةَ إِنَّمَا تَجُوزُ عِنْدَ عَدَمِ الشَّهْوَةِ، وَأَمْنِ الْفِتْنَةِ، فَإِذَا خِيفَتِ الْفِتْنَةُ عَلَى أَحَدِ الطَّرَفَيْنِ أَوْ وُجِدَتِ الشَّهْوَةُ وَالتَّلَذُّذُ مِنْ أَحَدِهِمَا حَرُمَتِ الْمُصَافَحَةُ بِلَا شَكٍّ، بَلْ لَوْ فُقِدَ هَذَانِ الشَّرْطَانِ عَدَمُ الشَّهْوَةِ وَأَمْنُ الْفِتْنَةِ بَيْنَ الرَّجُلِ وَمَحَارِمِهِ مِثْلَ خَالَتِهِ أَوْ عَمَّتِهِ أَوْ أُخْتِهِ مِنَ الرَّضَاعِ، أَوْ بِنْتِ امْرَأَتِهِ، أَوْ زَوْجَةِ أَبِيهِ، أَوْ أُمِّ امْرَأَتِهِ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ، لَكَانَتِ الْمُصَافَحَةُ حِينَئِذٍ حَرَامًا. بَلْ لَوْ فُقِدَ الشَّرْطَانِ بَيْنَ الرَّجُلِ وَصَبِيٍّ أَمْرَدَ حَرُمَتْ مُصَافَحَتُهُ أَيْضًا، وَرُبَّمَا كَانَ فِي بَعْضِ الْبِيئَاتِ، وَلَدَى بَعْضِ النَّاسِ، أَشَدَّ خَطَرًا مِنَ الْأُنْثَى.
أَلثَّانِي: يَنْبَغِي الِاقْتِصَارُ فِي الْمُصَافَحَةِ عَلَى مَوْضِعِ الْحَاجَةِ، كَالْأَقَارِبِ وَالْأَصْهَارِ الَّذِينَ بَيْنَهُمْ خُلْطَةٌ وَصِلَةٌ قَوِيَّةٌ، وَلَا يَحْسُنُ التَّوَسُّعُ فِي ذَلِكَ، سَدًّا لِلذَّرِيعَةِ وَبُعْدًا عَنِ الشُّبْهَةِ، وَأَخْذًا بِالْأَحْوَطِ، وَاقْتِدَاءً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي لَمْ يَثْبُتْ عَنْهُ أَنَّهُ صَافَحَ امْرَأَةً أَجْنَبِيَّةً قَطُّ، وَأَفْضَلُ لِلْمُسْلِمِ الْمُتَدَيِّنِ، وَالْمُسْلِمَةِ الْمُتَدَيِّنَةِ أَلَّا يَبْدَأَ أَحَدُهُمَا بِالْمُصَافَحَةِ وَلَكِنْ إِذَا صُوفِحَ صَافَحَ. وَإِنَّمَا قَرَّرْنَا الْحُكْمَ لِيَعْمَلَ بِهِ مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ دُونَ أَنْ يَشْعُرَ أَنَّهُ فَرَّطَ فِي دِينِهِ وَلَا يُنْكِرَ عَلَيْهِ مَنْ رَآهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ مَا دَامَ أَمْرًا قَابِلًا لِلِاجْتِهَادِ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
Sumber: SOSIALISASI HASIL BAHTSUL MASAIL LBM NU KLATEN PUTARAN KE-118 JATINOM, JUMAT 03 JULI 2026
Alhamdulillah
BalasHapus