Ulang Haji & Umrah Sunnah vs Bantu Tetangga Kelaparan: Mana yang Wajib Didahulukan?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat pembaca yang budiman, ibadah haji dan umrah merupakan amalan yang sangat mulia dan menjadi idaman setiap muslim. Tidak sedikit masyarakat yang dikaruniai kelebihan rezeki memilih untuk menunaikan haji sunnah atau berangkat umrah secara berulang kali sebagai bentuk kecintaan kepada Baitullah.

Namun, bagaimana jika di lingkungan sekitar atau tetangga dekatnya terdapat kaum muslimin yang hidup dalam keadaan sangat kekurangan dan terlantar? Manakah yang lebih diutamakan menurut tuntunan syariat Islam: mengalokasikan dana tersebut untuk ibadah sunnah berulang ke Makkah, ataukah menggunakannya untuk menyantuni tetangga yang membutuhkan? Berikut ulasan fikihnya:

Sosialisasi Bahtsul Masail LBM NU Klaten

Pertanyaan:

Bagaimana hukum seseorang yang berulang kali menunaikan ibadah haji dan umrah, sementara lingkungan sekitarnya & tetangganya hidup dalam keadaan terlantar?

Jawaban & Penjelasan:

Jika memungkinkan, idealnya seseorang dapat menunaikan umrah sekaligus bersedekah kepada tetangganya yang membutuhkan. Namun, apabila di sekitarnya terdapat tetangga atau kaum muslimin yang hidup dalam keadaan terlantar dan sangat membutuhkan pertolongan mendesak, sedangkan biaya haji atau umrah sunnah berulang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka, maka membantu mereka wajib didahulukan daripada melaksanakan haji atau umrah sunnah berulang.

Prioritas Hukum Syariat: Menghilangkan Kedaruratan (*Daf'u adh-Dharurat*):
Dalam kaidah fikih, memenuhi kebutuhan pokok masyarakat yang kelaparan atau terdesak (*fardhu kifayah/fardhu 'ain*) berstatus Wajib bagi orang yang memiliki kelebihan harta. Sementara menunaikan haji atau umrah yang kedua kali dan seterusnya berstatus Sunnah. Hukum kewajiban menyelamatkan jiwa dan memenuhi kebutuhan dasar sesama muslim wajib didahulukan daripada ibadah yang berstatus sunnah.

Referensi & Maraji' Kitab:

1. Kitab I'anatu at-Thalibin (Jilid 2, Hlm. 319)

Bab al-Hajj - Al-Maktabah asy-Syamilah

وَالْمُرَادُ بِمَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ نَفَقَتُهُ: الزَّوْجَةُ، وَالْقَرِيبُ، وَالْمَمْلُوكُ الْمُحْتَاجُ لِخِدْمَتِهِ، وَأَهْلُ الضَّرُورَاتِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَلَوْ مِنْ غَيْرِ أَقَارِبِهِ؛ لِمَا ذَكَرُوهُ فِي السِّيَرِ مِنْ أَنَّ دَفْعَ ضَرُورَاتِ الْمُسْلِمِينَ بِإِطْعَامِ جَائِعٍ، وَكِسْوَةِ عَارٍ، وَنَحْوِهِمَا فَرْضٌ عَلَى مَنْ مَلَكَ أَكْثَرَ مِنْ كِفَايَةِ سَنَةٍ. وَقَدْ أَهْمَلَ هَذَا غَالِبُ النَّاسِ، حَتَّى مَنْ يَنْتَمِي إِلَى الصَّلَاحِ.

2. Kitab Ihya' 'Ulum ad-Din karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali (Jilid 3, Hlm. 418)

وَرُبَّمَا يَحْرِصُونَ عَلَى إِنْفَاقِ الْمَالِ فِي الْحَجِّ فَيَحُجُّونَ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، وَرُبَّمَا تَرَكُوا جِيرَانَهُمْ جِيَاعًا. وَلِذَلِكَ قَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: "فِي آخِرِ الزَّمَانِ يَكْثُرُ الْحَاجُّ بِلَا سَبَبٍ، يَهُونُ عَلَيْهِمُ السَّفَرُ، وَيُبْسَطُ لَهُمْ فِي الرِّزْقِ، وَيَرْجِعُونَ مَحْرُومِينَ مَسْلُوبِينَ، يَهْوِي بِأَحَدِهِمْ بَعِيرُهُ بَيْنَ الرِّمَالِ وَالْقِفَارِ، وَجَارُهُ مَأْسُورٌ إِلَى جَنْبِهِ لَا يُوَاسِيهِ".

Sumber: SOSIALISASI HASIL BAHTSUL MASAIL LBM NU KLATEN, JUM'AT, 07 AGUSTUS 2026

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *