Punya Rumah Mewah Tapi Belum Haji, Wajibkah Dijual? Ini Hukum Fikihnya

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sahabat pembaca yang budiman, ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan bagi setiap muslim yang memenuhi kriteria istitha'ah (mampu). Kriteria kemampuan ini tidak hanya diukur dari ketersediaan uang tunai secara langsung, melainkan juga dari aset atau harta benda berharga yang dimiliki oleh seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui seseorang yang memiliki tempat tinggal berupa rumah yang sangat besar dan mewah melebihi batas kebutuhan wajarnya, namun ia belum menunaikan ibadah haji. Lantas, bagaimanakah fikih memandang kondisi tersebut? Apakah ia dituntut untuk menjual atau mengganti rumah mewah tersebut dengan rumah yang standar demi membiayai perjalanan haji? Berikut ulasan hukum fikihnya:

Sosialisasi Bahtsul Masail LBM NU Klaten

Pertanyaan:

Seseorang belum menunaikan ibadah haji, tetapi memiliki rumah besar dan mewah. Jika rumah tersebut dijual, hasilnya cukup untuk membeli rumah yang layak serta cukup untuk membiayai ibadah haji. Apakah ia wajib menjual rumah tersebut demi menunaikan ibadah haji?

Jawaban & Penjelasan:

Wajib. Sebab, rumah yang dimilikinya melebihi kebutuhan yang wajar. Apabila rumah tersebut dapat dijual lalu diganti dengan rumah lain yang layak sesuai kebutuhannya, lalu sisa harganya mencukupi untuk biaya haji, maka ia telah dianggap mampu (istitha'ah). Oleh karena itu, ia wajib menjual rumah tersebut dan menunaikan ibadah haji.

Prinsip Penilaian Aset Mewah (*An-Nafis*):
Dalam fikih, aset tempat tinggal dasar tidak wajib dijual untuk haji jika ukurannya standar sesuai kebutuhan. Namun, jika aset tersebut tergolong sangat bernilai/mewah (nafis) melebihi kedudukan atau kebutuhan wajarnya, maka kelebihan nilai (selisih harga jual dengan rumah pengganti yang layak) dihitung sebagai dana yang mewajibkannya menunaikan ibadah haji.

Referensi & Maraji' Kitab:

1. Kitab Mughni al-Muhtaj karya Khatib asy-Syirbini (Jilid 2, Hlm. 213)

Kitab al-Hajj - Al-Maktabah asy-Syamilah

فَأَمَّا إذَا أَمْكَنَ بَيْعُ بَعْضِ الدَّارِ وَلَوْ غَيْرَ نَفِيسَةٍ وَوَفَى ثَمَنُهُ بِمُؤْنَةِ الْحَجِّ، أَوْ كَانَا نَفِيسَيْنِ لَا يَلِيقَانِ بِمِثْلِهِ وَلَوْ أَبْدَلَهُمَا لَوَفَى التَّفَاوُتُ بِمُؤْنَةِ الْحَجِّ فَإِنَّهُ يَلْزَمُهُ ذَلِكَ جَزْمًا.

2. Kitab Bughyah al-Mustarsyidin (Jilid 1, Hlm. 240)

Jami' al-Kutub al-Islamiyyah

مسألة : ب : يلزم الشخص صرف مال تجارته وبيع عقاره في الحج ، إذ يصير بذينك مستطيعاً ، بخلاف كتب الفقيه ، وخيل الجندي ، وثياب التجمل ، وآلة المحترف ، وحلي المرأة اللائق بها المحتاجة للتزين به عادة ، فلا يعدّ صاحبها مستطيعاً ، ولا يلزمه بيعها في الفطرة ابتداء كالكفارة وثمن ما ذكر كهي ، نعم يختلف الحكم في النفيس والمكرر ، فإذا كان يمكنه الإبدال بلائق وإخراج التفاوت لزمه ذلك في الحج والفطرة لا الكفارة ، ومتى صارت المرأة عجوزاً ، لا تحتاج للحلي ، ووجدت شروط الاستطاعة ببيعه لزمها بيعه والإحجاج بنفسها أو الاستنابة على ما فصل ، ولو كان معه ما يكفيه للحج بنفسه لكنه أعمى أو امرأة يحتاج إلى قائد أو محرم ولم يفضل لهما شيء فعضب والمال بحاله لزمه استنابة غيره من الميقات بذلك المال ، كما لو كان مع المعضوب مال يكفي أجيراً من مكة كستة قروش لزمه أن يوكل من يستأجر حاجاً من الميقات أيضاً فوراً ، وإن عضب بعد التمكن وإلا فعلى التراخي ، لأن الاستطاعة بالغير كهي بالنفس.

Sumber: SOSIALISASI HASIL BAHTSUL MASAIL LBM NU KLATEN, JUM'AT, 07 AGUSTUS 2026

Lainnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *